



AKTIFITAS MASA KINI
Bapak Probo, dalam usianya yang sudah 77 tahun, masih aktif dalam kegiatan bisnis dan sosial. Tujuan utama bisnis beliau bukan saja untuk meraup untung namun juga untuk menggunakan sebagian dari untung tersebut untuk kegiatan sosial. Kegiatan sosial ini tidak lepas dari tujuan beliau untuk membuat impiannya yang sangat idealis menjadi realita. Misalnya dalam pembangunan sekolah dan universitas, hal tersebut merupakan penjelmaan impian beliau tentang peningkatan mutu pendidikan nasional.
Sama halnya dengan usaha pak Probo untuk meningkatkan produksi beras. Usaha ini terkait dengan keinginan beliau untuk mewujudkan impiannya yaitu terciptanya swasembada beras nasional.
Beras adalah sumber makanan utama bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Angka persediaan beras dipergunakan sebagai tolok ukur untuk memperkirakan tingkat kemiskinan di Negara ini. Jika satu keluarga tidak mampu untuk membeli beras sesuai kebutuhan seluruh anggota keluarganya maka keluarga tersebut dianggap miskin. Banyak patriot bangsa yang mendambakan Indonesia menjadi Negara yang ber- swasembada beras. Mereka ingin hidup di Negara Indonesia yang mempunyai persediaan beras yang berlimpah dengan harga yang terjangkau. Bagi pak Probo tercapainya sasaran ini merupakan perwujudan impian beliau.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia sedang mengalami krisis pangan. Artinya, produksi pangan dalam negeri tidak sesuai dengan jumlah penduduk yang membutuhkan makanan tersebut untuk kelangsungan hidup. Malah ada yang pernah mengatakan bahwa dalam situasi perang internasional atau embargo ekonomi, bangsa kita hanya dapat bertahan selama 2 minggu karena stok pangan yang habis dalam waktu tersebut. Maka jelas sudah tingkat kepentingan Negara untuk meningkatkan produksi pangan nasional yaitu demi kelangsungan hidup bangsa dan juga (dalam segi pandangan militer) untuk kekuatan stok dalam negeri dalam menghadapi serangan musuh atau embargo ekonomi.
Dalam situasi perang internasional tempat-tempat yang diserang terlebih dahulu oleh musuh adalah sumber energy (seperti kilang minyak, tambang batu bara, dan pusat pembangkit listrik), telekomunikasi, dan akhirnya stok pangan dan persediaan air bersih. Target musuh adalah membuat Negara yang diserang lumpuh total. Karena Indonesia sedang mengalami krisis pangan maka gangguan dalam produksi dan distribusi makanan dapat dicapai dengan mudah oleh musuh. Apa gunanya senjata jika perwira yang harus menggunakan senjata tersebut berada dalam kondisi lemas kelaparan.
Memang Negara ini sedang dalam keadaan damai. Namun, sesuai nasehat Allah SWT, kita senantiasa harus waspada dan berjaga-jaga. Siapa tahu? Sejarah dunia dipenuhi dengan cerita-cerita peperangan. Para ahli sejarah kerap kali mengatakan bahwa sejarah dapat terulang lagi . Tetapi lebih dari itu, walaupun kita sedang berada dalam situasi damai seperti saat ini, stok pangan yang mencukupi akan membantu kelangsungan hidup bangsa.
Maka pak Probo terketuk untuk merancang program penanaman padi yang akan memberikan keuntungan kepada petani sehingga mereka bergairah untuk meningkatkan produksi padi mereka.
Program Peningkatan Produksi Padi
Struktur program ini sangat sederhana yaitu sbb:
Dengan program ini biaya petani untuk menanam padi, yaitu sebesar Rp. 4,000,000,- per hektar, tidak ditanggung oleh petani. Dengan harga pasar Rp. 2,000,- (dua ribu Rupiah) per kilogram, pembelian produksi petani sebanyak 5 ton per hektar dapat memberikan penghasilan sebesar Rp. 10,000,000,- (sepuluh juta Rupiah) per hektar.
Memang ada yang mengatakan bahwa petani tidak akan menanam karena sudah mendapatkan dana gratis sebesar Rp. 4,000,000,- per hektar. Namun jika petani tidak menanam maka dia kehilangan kesempatan meraih keuntungan bersih sebesar Rp. 10,000,000,- per hektar per masa panen, atau 2.25 kali lipat dari biaya produksi.
Dalam angka hitungan diatas dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen program menghasilkan ‘break-even’ jika petani menghasilkan produksi sebesar 7 ton per hektar. Jika produksi ternyata melebihi 7 ton maka sisanya merupakan keuntungan bagi program yang dapat diinvestasikan kembali kedalam program ini. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan partisipasi petani yang akhirnya berwujud dengan peningkatan produksi beras nasional.
Kesuksesan program ini sangat tergantung dengan tanggung jawab dan kesadaran semua pihak yang terlibat secara langsung atau tidak langsung. Sangat disayangkan jika ada pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab menyalahgunakan fasilitas yang diberikan oleh program ini demi keuntungan sesaat dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Dengan mengesampingkan kepentingan jangka panjang berarti pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab tersebut mengesampingkan kepentingan keturunannya sendiri di masa depan. Intinya, kita semua perlu menyadari, demi anak-cucu kita sendiri, betapa pentingnya peningkatan produksi pangan nasional supaya bangsa kita dapat menyuapi diri sendiri dan menjaga kekuatan integritas nasional.
Nama:
H. Probosutedjo
Lahir:
Yogyakarta, 1 Mei 1930
Status:
Menikah dan dikaruniai enam anak
Pekerjaan:
Pengusaha
Pendidikan:
- SD, Desa Pedes, (1945)
- SMP, Yogyakarta (1948)
- SMEA, Yogyakarta (kelas II)
- SGA, Pematangsiantar (1959)
- Kursus B-1, Pematangsiantar (1961)