


Probosutedjo dan Lintang Kemukus
“ BERADA DI TENGAH WARGA DESA TEMPAT KELAHIRANNYA, KEMUSUK, ARGOMULYA, SEDAYU, BANTUL, YOGYAKARTA, PERTENGAHAN MARET LALU, WAJAH H. PROBOSUTEDJO TAMPAK SUMRINGAH. IA MELANGKAH TERTATIH DITUNTUN KEPONAKANNYA, ARYOWINOTO, MENAIKI PODIUM. BEBERAPA KALI SENYUM MENGEMBANG DARI BIBIRNYA. SENYUM, YANG MENGINGATKAN PADA SOSOK SAUDARA TUANYA, MENDIANG MANTAN PRESIDEN SOEHARTO. “
Siang itu, ratusan warga Desa Argomuiyo tumplek di pelataran rumah keluarga Noto Suwito (alm). Sekitar 300 kursi yang dipersiapkan panitia, tidak mampu menampung semua tamu yang datang. Maklum sejak beberapa hari sebelumnya telah beredar kabar rencana kehadiran Pak Probo, sebutan H Probosutedjo, yang akan datang bersama Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Karena itu, selain membawa anaknya mengikuti sunatan gratis, banyak dari mereka yang datang hanya karena tertarik ingin melihat langsung sosok kedua tokoh nasional tersebut.
Para warga itu duduk dengan tertib di kursi yang berjajar rapi di bawah tenda, sedang yang lain berdiri bergerombol sembari mendengar pengajian. Sesekali para warga itu memandang ke luar arah jalan, berharap kedua tokoh yang ditunggu segera tiba. Benar saja, tak lama kemudian kedua orang yang ditunggu-tunggu itu muncul. Keduanya berjalan menuju depan panggung diiringi beberapa pengawal dan para tokoh desa setempat.
Sontak para warga itu menggeremang sating berbisik seperti suara ribuan tawon. Berdesakan berebut tempat paling depan, menyapa sosok yang sebelumnya hanya dilihatnya di televisi dan di koran-koran. Pak Probo sendiri yang banyak menyimpan kenangan semasa muda masih hidup di desa itu, dengan ramah menyambut jabat tangan para warga yang mengerumuninya. Boleh jadi, di antara laki-laki renta yang ikut menyambutnya itu adalah temannya sendiri di masa kecil.
Dalam kesempatan itu, Pak Probo menyempatkan diri beramah tamah dengan warga. Mengenakan kaos berkerah berwarna coklat muda dibungkus jaket warna biru tua dan mengenakan peci hitam, membuat penampilan konglomerat berusia 79 tahun tahun itu kelihatan bersahaja. Kepada para "tetangganya" itu, ia berpesan agar para petani menggarap sawah-sawah mereka dengan serius. Sebab, hanya dengan pertanianlah maka kebesaran negara ini akan terwujud.
Selain itu, adik mendiang presiden Soeharto tersebut juga sempat wanti-wanti agar semua warga berhati-hati dalam memilih calon pemimpin mendatang. "Pilih calon pemimpin yang berpihak kepada rakyat, dan bukan malah yang memperdayakan rakyat," ungkapnya. Probosutedjo adalah seorang pengusaha besar dan tokoh nasional yang dikenal berani dan memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya. la tak segan-segan mengkritik kebijakan yang dikeluarkan penguasa yang ia pandang tidak pada tempatnya.
Kini, di usianya yang tak lagi muda, Probosutedjo tetap aktif dalam kegiatan bisnis dan sosial. Sejak lama, ia punya impian bisa ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. lmpian itu diwujudkan dengan pembangunan sekolah dan universitas. Keinginan yang lain yang senantiasa memenuhi benak Pak Probo adalah meningkatkan pertanian untuk terciptanya swasembada beras nasional. "Beras adalah sumber makanan utama bagi sebagian besar rakyat Indonesia," ujarnya tersenyum, membuka perbincangan dengan Kabare yang menemuinya dalam kesempatan bersantap siang, di sela-sela acara sunatan massal tersebut.
Karena itu, ungkapnya, angka persediaan beras juga bisa digunakan sebagai indikator tingkat kemiskinan di negara ini. Jika satu keluarga tidak mampu untuk membeli beras sesuai kebutuhan seluruh anggota keluarganya maka keluarga tersebut dianggap miskin. Banyak tokoh bangsa di negeri ini mendambakan Indonesia mampu berswasembada beras. Di mana masyarakat bisa hidup dengan persediaan beras yang berlimpah dan harga yang terjangkau. "Tapi kan kita semua tahu sekarang negeri ini sedang berada dalam kesulitan."
Menurut Probosutedjo, kondisi seperti itu merupakan sesuatu yang tragis. Sebuah bangsa di negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, namun di dalamnya banyak yang hidup berkekurangan. Menurutnya, untuk mengatasi itu diperlukan kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor pertanian. Selain tentu saja etos kerja masyarakat Indonesia sendiri yang juga harus dilipatgandakan. Sikap terlalu "nrimo" pada keadaan, bisa membuat orang tak punya keinginan berkembang.
Probosutedjo bukan cuma pintar berbicara. Sejak kecil, ia sudah dikenal sangat rajin bekerja, meski ia sendiri hidup di tengah keluarga cukup berada di zamannya. la lahir 1 Mei 1930 di Desa Kemusuk, kurang lebih 10 kilometer arah barat Kota Yogyakarta, dari sebuah keluarga yang cukup terpandang akar garis keturunan dan kejuangannya. Ayahnya, bernama Atmoprawiro. lbunya, bernama Rr Suktrah.Dari darah sang ayah,dia mewarisi jiwa pejuang. Sedangkan dari garis darah sang ibu, dia. mempunyai trah dengan Keraton Yogyakarta.
Ayahnya menjabat mandor kepala di perkebunan tebu. Sebagai mandor kepala, kehidupan ekonomi keluarga ini tergolong berkecukupan untuk ukuran desa Kemusuk kala itu. Keluarga ini menjadi cukup terpandang dan menjadi tempat orang mengadukan keluh-kesahnya. Di tengah keluarga seperti itulah, Probo kecil tumbuh. Orangtuanya selalu mengajarkan bagaimana menghayati hidup dengan cara bekerja keras dan mensyukuri hasilnya.
Tahun 1941, saat itu Probo baru 11 tahun ketika ayahnya memberinya tugas khusus untuk menukarkan uang Golden ke Koperasi Atmo yang jaraknya 500 meter dari rumahnya. Setiap hari Sabtu, bocah ini membawa uang 5 Golden untuk ditukarkan menjadi pecahan senilai 500 sen. Nilai 1 Golden setara 100 sen. Uang itu untuk membayar gaji para buruh setiap akhir pekan.
Selain tekun bekerja, Probo kecil juga sangat rajin bersekolah. Ketika masuk sekolah SMP di kota, ia harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Pulang-pergi berarti 2 x 10 kilometer setiap hari. Tapi ia tak pernah mengeluh karenanya. Agar tidak terlambat, dia harus berangkat subuh pukul 04.00 dan pulang sore hari. Bahkan kalau di sekolah ada kegiatan tambahan, berarti ia harus pulang malam hari.
“Saat pulang malam itulah, saya sering melihat lintang kemukus meluncur di langit," ujar Pak Probo mengenang. Ada keyakinan di kalangan orang Jawa, kesempatan melihat lintang kemukus atau bintang berekor, bisa menjadi pertanda akan terjadi sesuatu yang besar dalam hidup orang yang melihatnya.
Lulus SMP, Probosutedjo melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) yang juga masih berlokasi di kota.Tapi ia tak perlu lagi berjalan kaki, sebab kakaknya, Soeharto, yang telah menjadi tentara dan berpangkat Letnan Kolonel (Letkol), memberinya sebuah sepeda. Probo muda sangat bahagia mendapatkan hadiah itu. Apalagi, sepeda masih jadi barang “mewah” yang masih langka dimiliki anak-anak di desanya.
Pejuang Cilik
Proses pengasuhan orangtua, telah membentuk pribadi Probo memiliki nilai-nilai kerohanian dan kejuangan yang tinggi. Pada usia 16 tahun, Probo sudah ikut bergerilya. Dia seorang pejuang cilik, termuda, dalam pasukan gerilya yang dikenal dengan nama pasukan Tedjo Eko (komandannya Tedjo Eko).Walaupun, kemudian, pasukan ini terpaksa ditinggalkannya.
Pada tahun 1946, saat Probo ikut bergerilya, ia mendapat kabar ibunya meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Kabar itu diterima Probo dari seorang saudara yang menemuinya saat ia sedang bergerilya. Kabar itu membuatnya terguncang. la lalu berusaha mencari Soeharto. Namun ia tidak berhasil menemukan, karena Soeharto ternyata sedang melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda di Semarang. Dengan sangat kecewa, Probo pulang ke desa Kemusuk untuk melihat wajah ibunya, untuk yang terakhir kali.
Mendengar kisah masa muda Pak Probo adalah melihat gambaran seorang pemuda dengan keberanian yang nyaris memberinya kesan "kurang ajar". Bayangkan, bagaimana ia sering mengganggu "ketentraman" penjajah Belanda dengan sapinya. Ketika Belanda melakukan tindakan pendudukan kembali, tahun 1949, Probo muda sangat tidak senang melihatnya.
Ketidaksenangan itu dilampiaskannya dengan mengganggu penjajah itu. Biasanya pada sore hari tatkala banyak orang sudah beristirahat, Probo malah menggunakan kesempatan itu menghalau sapi yang sedang berkubang di tengah sawah hingga berlari kencang ke arah asrama Belanda. Padahal sore hari, biasanya Belanda sedang mandi-mandi di sungai.
Melihat aksi Probo itu, karuan kompeni jadi murka. Probo dikejar-kejar, diteriaki. Mereka bahkan memberondongnya dengan tembakan senjata. Jika sudah demikian, Probo segera terjun ke lembah agar terhindar tembakan. Tetapi, suatu ketika, dua sahabatnya menjadi korban. Yang satu perutnya terkena tembakan sampai isi perutnya keluar,satu lagi kakinya bolong tertembus peluru.
Kesukaan Probo mengganggu Belanda pun semakin bervariasi dan menjadi-jadi, terlebih setelah ayahnya meninggal dunia pada Januari 1949 akibat ditembak serdadu Belanda.
* ditulis oleh Sugiyono, diambil dari majalah KABARE Edisi XXCIII, TAHUN VI, MEI 2009