


H. Probosutedjo:
Merindukan Kesejahteraan Rakyat Jelata
(Refleksi Pers 1974-2005)
Author: Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk.
Publisher: Universitas Mercu Buana bekerjasama dengan Yayasan Biografi Indonesia
Year: 2005
ISBN: 9799948800
KUTIPAN DARI BUKU:
H. PROBOSUTEDJO, lahir di desa Kemusuk jogjakarta 1 Mei 1930. Sebagai mantan “Guru Ilmu Pasti, Sejarah dan kepala Sekolah”, tidak mengherankan jika nasionalismenya sangat menonjol dan berani menentang arus. Dirinya tetap teguh dan bertahan pada sikapnya bahwa yang benar harus dibenarkandan yang salah harus disalahkan. Situasi di Republik indonesia ini bagi H. Probosutedjo selalu memprihatinkan dan dari zaman Revolusi Fisik, zaman orde lama, orde baru, maupun di zaman reformasi, perjalanannya seakan-akan berulang kembali. Dirinya merasakan bagaimana keruntuhan setiap zaman selalu ditandai dengan berbagai krisis, baik krisis ekonomi, sosial budaya, maupun krisis kepemimpinan, krisis moral serta bangsa Indonesia seakan-akan kurang memiliki jati diri.
Sebagai orang Jawa tentunya sikap H. Probosutedjo yang terbuka ini merupakan “keistimewaan” tersendiri di antara tokoh-tokoh Tanah Air ini. Seringkali keterbukaan pernyataan dan tulisannya terasa bersebrangan dengan sikap pemerintah, padahal pada zaman Orde Baru presidennya adalah kakak seibu yakni Jendral Besar TNI Soeharto. Bagi H. Probosutedjo sebagai orang Jawa selalu menuju kepada Mbabar Jati Diri Sangkan Peraning Dhumadi serta Ngulir Budi Ngudhi Kaluhuraning Bongso.
Apa yang dirasakan H. Probosutedjo semuanya terekam dalam pers Indonesia. Rekaman ini berupa “berita” tentang H. Probosutedjo mulai tahun 1974-2005 (31 tahun) lebih kurang seribu kliping dan “tulisan” H. Probosutedjo yang disebarkan melalui pers lalu diterbitkan menjadi 2 buku yakni Ngudhar Roso Mulat Sariro (1994) serta Keimanan Guru Pengusaha (1997).
Bertolak dari berita dan tulisan di pers inilah beberapa akademisi mencoba menganalisis dan menyuguhkan sosok H. Probosutedjo sebagai kenangan di hari ulang tahunnya ke 75. Tanpa disadari untuk diabadikan sebagai tokoh yang pernah hadir di bumi pertiwi Indonesia meskipun sebagai manusia tidak luput dari kelemahan.