PROLOG

AKTIFITAS
MASA KINI

PROLOG

Bapak Probosutedjo dilahirkan di desa Kemusuk, Yogyakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 1 Mei 1930. Beliau adalah anak kelima dari delapan kakak beradik. Bapaknya bernama Atmoprawiro dan ibunya bernama Soekirah.

Ada sebuah kisah yang menarik terkait dengan tanggal lahir beliau. Penduduk keturunan Jawa yang lahir sebelum hari kemerdekaan, umumnya, mereka harus merubah tanggal lahir mereka dari tanggal Jawa menjadi tanggal universal. Bapak Probosutedjo-pun melakukan perubahan tersebut. Ternyata ada kesalahan perhitungan terhadap perubahan tanggal tersebut. Namun hal ini tidak langsung disadari oleh bapak Probosutedjo. Maka untuk jangka waktu yang cukup lama beliau mengira bahwa ulang tahun beliau jatuh pada tanggal 15 Juli 1930.

Pada suatu hari beliau membuat sebuah pengumuman keluarga bahwa, setelah diteliti kembali oleh seorang ahli, ternyata tanggal lahir beliau adalah tanggal 1 Mei 1930. Bagi orang-orang yang menyukai ilmu astrologi, perubahan ini merupakan perubahan yang cukup signifikan yaitu dari karakter bintang Cancer yang halus dan romantis berubah menjadi karakter bintang Taurus yang berkemauan keras dan kurang kompromi. Bagi orang-orang yang dekat dengan bapak Probosutedjo mungkin akan menyatakan bahwa karakter beliau lebih mirip dengan karakter bintang Taurus yang keras. Kekeliruan ini tampak lebih lucu lagi jika melihat tas kantor beliau, yang sudah tidak digunakan lagi, yang masih tertera nomor 15-07-30 sebagai nomor kunci.

Bapak Probosutedjo juga pernah merubah namanya. Sewaktu lahir beliau tidak dinamakan Probosutedjo tetapi Suprobo. Menurut tradisi Jawa kaum laki-laki merubah namanya setelah menikah. Nama baru ini merupakan gabungan dari nama bapak kandungnya dan bapak mertuanya. Namun nama Suprobo dirubah menjadi Probosutedjo oleh ayah kandung beliau karena sewaktu kecil beliau sering jatuh sakit. Didalam kepercayaan Jawa jika seorang anak sering jatuh sakit maka nama panggilannya harus diganti.

Pada permulaannya nama Probosutedjo dipisah menjadi Probo Sutedjo. Berangsur-angsur nama yang terpisah ini dirubah menjadi tersambung. Nama ini memang sangat unik karena belum ditemukan lagi nama yang serupa di dunia ini. Kita sering menemukan orang bernama Probo atau Sutedjo namun hanya satu orang yang bernamakan Probosutedjo. Kelangkaan nama ini, ditambah dengan ikatan keluarga beliau dengan mantan Presiden kedua Republik Indonesia, almarhum bapak H. M. Soeharto, telah membuat sosok bapak Probosutedjo menjadi sangat menonjol.

Perubahan nama dan konsultasi dengan ahli tradisi Jawa menunjukkan bahwa bapak Probosutedjo adalah seseorang yang sangat lekat dengan akar beliau. Rasa cintanya terhadap kebudayaannya sendiri mendorong beliau untuk memulai koleksi barang-barang antik dari Jawa seperti keris, perhiasan, ukiran dan lukisan. Beliau malah telah membeli sebuah rumah kudus dan membangunnya di belakang rumahnya. Beliau, karena kesukaannya dengan rumah kudus tersebut, sempat menjadikannya sebagai kantor pribadi. Kemegahan rumah kudus ini, sekarang, dapat dilihat di Royal Presidential suite di Hotel Le Meridien Jakarta.

Rasa cinta bapak Probosutedjo terhadap kebudayaannya diperlihatkan juga dengan membantu perbaikan ataupun pemeliharaan bangunan-bangunan dan tempat-tempat bersejarah.

Walaupun bapak Probosutedjo adalah seseorang yang tradisionil namun beliau mengakui kepentingan kemajuan dalam pendidikan moderen. Pengakuan ini membuat beliau mengirim beberapa putra-putri Indonesia yang berbakat untuk sekolah di luar negeri.

Dalam waktu bersamaan, bapak Probosutedjo membangun dua universitas di Indonesia. Universitas Mercu Buana dibangun di Jakarta Barat dan Universitas Wangsa Menggala dibangun di kampung halamannya, Yogyakarta. Universitas Mercu Buana di Jakarta lebih besar daripada Universitas Wangsa Menggala, dan mempunyai 3 lokasi kampus.

Bapak Probosutedjo menghabiskan waktu dan energy yang cukup banyak, serta kekayaan pribadinya untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Selain telah membangun dua universitas, beliau telah membantu dalam pembangunan sekolah-sekolah, mesjid-mesjid, dan malahan juga telah memberikan beasiswa untuk pelajar-pelajar yang cakap untuk melanjutkan sekolah mereka di pendidikan tinggi.

Mungkin karena beliau telah mengalami masa perang kemerdekaan, ataupun mungkin karena beliau telah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, maka bapak Probosutedjo mempunyai dedikasi yang tinggi untuk membantu masyarakat yang kurang mampu di Indonesia. Beliau telah kehilangan kedua orang tuanya pada umur 19 tahun. Sekarang, dalam umurnya yang sudah 77 tahun, beliau berusaha untuk membangun industry pertanian padi yang telah ketinggalan supaya warga sebangsa dapat menikmati harga beras yang murah dengan terwujudnya persediaan yang berlimpah.

(Baru-baru ini ditemukan beberapa orang yang menggunakan nama Probosutedjo di internet yang tidak ada hubungan keluarga sama sekali dengan Bapak H. Probosutedjo).

Nama:
H. Probosutedjo

Lahir:
 Yogyakarta, 1 Mei 1930

Status:
Menikah dan dikaruniai enam anak

Pekerjaan:
Pengusaha

Pendidikan:
- SD, Desa Pedes, (1945)
- SMP, Yogyakarta (1948)
- SMEA, Yogyakarta (kelas II)
- SGA, Pematangsiantar (1959)
- Kursus B-1, Pematangsiantar (1961)