H. Probosutedjo:
Visi Dan Liku-Liku Keberhasilan Sebagai Pengusaha Nasionalis

Author: H. Probosutedjo
Publisher: Gemah Ripah, Jakarta
year: 1999
ISBN: 9798679033

KUTIPAN DARI BUKU:
H. Probosutedjo, termasuk pengusaha kelas konglomerat yang meniti karirnya melalui berbagai liku-liku dan hambatan. Karena sikap dan pendiriannya yang tegas terhadap para pejabat dan pemerintah ia dinilai terlalu vokal.

H. Probosutedjo, lahir di Yogyakarta 1 Mei 1930. Sebagai mantan guru Taman Siswa, tidak mengherankan jika nasionalismenya sangat menonjol dan berani menentang arus. Ia tetap teguh dan bertahan pada sikapnya bahwa yang benar harus dibenarkan dan yang salah harus disalahkan.

Sebagai pengusaha kaliber internasional yang bergaul dengan para pengusaha dari berbagai negara sahabat, namun ia tidak pernah melupakan asal-usulnya dan tetap gigih memperjuangkan nasib rakyat kecil.

H. Probosutedjo, berani menilai bahwa hasil pembangunan tidak cocok dengan Pancasila dan UUD 1945, padahal tidak seorangpun yang secara terbuka menyatakan bahwa pembangunan telah jauh menyimpang dari tujuan. Sebagai mantan guru Taman Siswa, ia mendalami antara lain ajaran kejawen, namun tidak fanatik. Dalam uraiannya tentang sangkan paraning dhumadi, dibahas secara ilmiah tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.

H. Probosutedjo, tidak pernah memamerkan berbagai bantuan sosial yang dilakukan, padahal nilai bantuan sosial antara lain dalam turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, yakni dengan membangun berbagai Perguruan Tinggi termasuk sarana dan prasarananya mencapai ratusan miliar rupiah, tanpa pamrih dan bukan merupakan investasi usaha dagang. Rasanya pantang bagi H. Probosutedjo untuk mengkomersilkan pendidikan.
Meskipun ia bukan anggota muhammadiyah, tetapi sering menyumbang kepada organisasi tersebut. Bahkan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Medan dibuatkan gedung bertingkat empat terdiri lebih dari delapan puluh lokal dan rektorium. Rumah miliknya di Yogyakarta dimanfaatkan untuk pengajian dan dakwah agama oleh masyarakat setempat.

Bantuan terhadap masyarakat dan perorangan tidak pernah dilupakannya, padahal pada bulan Ramadhan (Puasa) selama satu bulan penuh, terutama menjelang lebaran 1419H, puluhan ribu orang miskin diberi bantuan berupa paket sembako yang berisi beras lima kilogram, kecap dan ikan asin kualitas nomor satu dari Palembang. Ia selalu menegaskan bahwa bantuan sosial yang diberikan kepada orang miskin, merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam atas berbagai nikmat yang diperolehnya dari Tuhan Yang Maha Esa.